Keberadaan Semesta Alam Sebagai Bukti Keesaan Allah

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.(Qs.AlBaqarah164).

Allah SWT memberikan kelebihan kepada manusia yaitu akal dan fikiran agar manusia mampu memikirkan dan memahami rahasia-rahasia yang terdapat di langit dan di bumi, agar membawa manusia menuju kearah pemikiran yang benar. Dalam ayat Al-Quran banyak terdapat perbincangan-perbincangan mengenai aspek-aspek alam dan segala hal yang berkaitan dengannya, sebagai bukti tentang kekuasaan Allah SWT dan tanda-tanda kebesaranNya.

Perkembangan zaman dan kemajuan tekhnologi kemudian membuktikan, ada kejadian-kejadian, ada hal-hal di alam semesta yang tidak serta merta ada, serta merta terjadi, melainkan karena Allah sudah mengaturnya sedemkian rupa. Seperti kehidupan dan kematian yangh datang silih berganti, begitu juga semesta alam. Lalu apa saja yang ada di semesta alam yang tidak sanggup manusia paling hebat pun melakukan atau menciptakannya?

1. Siang dan Malam

Siang adalah situasi di bagian permukaan bumi yang mendapatkan cahaya dari matahari akibat rotasi atau perputaran bumi pada porosnya. Manusia memanfaatkan terangnya alam untuk menyibukkan diri dengan kepentingan masing-masing.

Sedangkan malam adalah situasi dimana sebagian permukaan bumi berada dibalik matahari sehingga tidak mendapatkan cahaya. Manusia memanfaatkannya untuk beristirahat setelah seharian bergelut dengan urusan masing-masing.

Bagaimana Siang dan Malam Terjadi?

Matahari adalah sebuah bola gas yang berpijar, berbentuk plasma yang terus bersinar dengan menukar zat hidrogen dengan zat helium melalui sebuah proses yang disebut dengan “fusi” nuklir. Setiap saat matahari “bersedekah” untuk alam dengan massa sebesar 4 juta ton. Dengan sedekah sebesar itu setiap saat, matahari telah memberikan cahaya yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia di permukaan bumi.

Sedangkan bumi adalah sebuah planet yang mempunyai massa sebesar 59.760 milyar ton. Dan diameter 12.756 km. Jaraknya dengan matahari adalah 149.680.000 km atau dibulatkan 150 juta km. Bentuk dari bumi ini adalah bulat pipih di atas dan bawahnya yang disebut kutub utara dan kutub selatan. Bumi berputar pada porosnya dengan kecepatan sekitar 1.669 km/jam. Sambil berputar bumi “berjalan” mengitari matahari pada garis edarnya (orbit) atau manzilah dengan kecepatan 107.000 km/jam. Dalam perjalanan “hidup”nya bumi ditemani oleh sebuah satelit, yaitu bulan yang senantiasa setia mengikuti dan mengitarinya.

Berputarnya bumi pada porosnya itulah yang menyebabkan terjadinya gelap dan terang di sebagian permukaan bumi. Kita menyebutnya dengan kata “siang dan malam”. Dan berjalannya bumi dan bulan pada “jalur”nya menyebabkan kita mengetahui hitungan bulan dan tahun.

Waktu yang dibutuhkan oleh bumi untuk mengitari matahari adalah 1 tahun atau 365 hari. Semua peristiwa tersebut mempunyai kegunaan dalam kehidupan di bumi dan demi menyempurnakan umur manusia dari lahir hingga ajalnya. Dan sebuah kepastian akan adanya sebuah dzat yang mempunyai kemampuan mengatur kesemuanya itu demi bergulirnya sebuah kata, yaitu “kehidupan”.

Dalam surat Al Qashash: 71 Allah berfirman; ”Katakanlah, Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”

”Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.”

Siang dan malam adalah sebuah tanda. Yaitu tanda-tanda bahwa Allah kuasa untuk memerintahkan kepada semua makhluk untuk tunduk kepadaNya. Termasuk bumi, bulan dan matahari. Cukup banyak ayat-ayat mengenai kuasanya Allah untuk menundukkan siang dan malam agar selalu bergantian dalam kemunculannya. Dn menerangkan bahwa peristiwa siang dan malam adalah tanda-tanda Allah bagi mereka yang mahu berfikir.

2. Gempa Bumi

Gempa bumi adalah suatu peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi. Akumulasi energi penyebab terjadinya gempa bumi dihasilkan dari pergerakan lempeng-lempeng tektonik. Energi yang dihasilkan tersebut kemudian dipancarkan ke semua arah berupa gelombang gempa bumi sehingga kesannya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi.

Suatu peristiwa dapat dikategorikan sebagai gempa bumi ketika peristiwa tersebut memenuhi beberapa karakteristik gempa bumi seperti berlangsung dalam waktu yang sangat singkat, dampak yang ditimbulkan dapat menimbulkan bencana dalam skala yang besar sehingga menyebabkan kerugian di suatu lokasi kejadian. Gempa bumi tidak dapat dicegah.

3. Pasang surut air

Pasang surut air adalah naik dan turunnya air laut akibat putaran Bumi dan tarikan graviti Bulan. Pasang surut ini berlaku di kawasan pantai dan muara sungai, lazimnya dua kali pasang dan dua kali surut sehari. Waktu air pasang, air laut tenang dan kadang-kala mengalir ke hulu sungai sehingga 10 kilometer. Waktu air surut, pinggir air jauh ke tengah laut.

5. Letusan Gunung Berapi

Mengenai Gempa bumi, Allah menyampaikan firmanNYA di dalam Al Quran yang berbunyi; “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. ( Al Anbiyaa 21:31).

Sebagaimana kita ketahui bahwa bumi berbentuk bola dengan radius sekitar 6500 Km. Permukaan bumi tidak datar, ini disebabkan oleh tekanan dan desakan dari dalam bumi dan juga karena perubahan dari berbagai tekanan di atas permukaannya.

Dari bukti-bukti sain menunjukkan bahwa lapisan bumi hanya mengadung 20% padatan, yaitu lapisan Litosfir (kedalam sekitar 100 km), lapisan kerak dan selubung (ketebalan 500 1000 km), dan 80% sisanya adalah air dan magma yang sangat panas. Lapisan paling dalam (inti bumi) berdiameter sekitar 5500 6500 Km berupa magma dengan suhu mencapai 5000 dejarat celcius, diikuti oleh lapisan diatasnya berupa lapisan yang disebut degan Mantel (ketebalannya 2500 3000 Km) yang juga berupa magma panas bersuhu 2200 derjat celcius.

Lapisan padat yang merupakan selubung bagian atas bumi bagaikan lempengan tipis yang sedang terapung diatas lapisan magma yang panas sehingga lempeng ini akan selalu bergerak dan mengalami berbagai tekanan menghasilkan tabrakkan, patahan, getaran dan guncangan.

Pada lapisan yang tebalnya hingga 1000 Km inilah yang merupakan tempat terjadinya sumber getaran yang menghasilkan gempa bumi. Bumi ini menyimpan energi panas yang sangat besar yang sewaktu-waktu bisa meledak apabila bumi tidak dirancang memiliki sitem pendingin dan sistim peredam getaran/tekanan yang hebat.

Kalau tubuh manusia mempunyai pori-pori sebagai sistem ventilasi dan pembuangan, maka gunung-gunung juga merupakan pori-porinya bumi yang dirancang untuk system ventilasi dan meredam goncangan akibat tekanan yang tidak stabil dari dalamnya. Sekiranya permukaan bumi ini tertutup rapat dan tidak ada satupun gunung berapi, apakah yang akan terjadi? Mungkin bumi ini akan retak, pecah dan meledak.

Bagaimana hubungan antara gunung berapi dengan gempa? Dari hasil penemuan sain, menunjukan bahwa lapisan atas bumi (litosfir dan selubung bumi) akan selalu mengalami pergesaran dan pergerakan. Pernyebabnya adalah adanya sumber panas yang sangat hebat yang berasal dari lapisan dalam bumi.
Panas ini menyebabkan bebatuan dan unsur-unsur mineral menjadi cair dan berbagai macam gas terperangkap di dalam magma tersebut. Artinya terdapat sekitar 40 50% dari volume bumi, mengandung magma panas yang tersimpan di bagian dalam bumi. Magma yang panas tersebut akan memuai lalu naik keatas mendesak lempeng dan kerak bumi, sehingga menyebabkan lempeng-lempeng itu saling menjauh.

Ketika magma mencapai bagian atas yang lebih dingin maka magma tersebut akan menyusut dan memadat karena proses pendinginan. Akibatnya lempeng-lempeng tersebut akan bergerak kembali mengisi ruang magma yang menyusut tersebut. Pada saat lempeng-lempeng itu bergerak kembali, maka akan terbentuk lagi retakan-retakan yang menyebabkan magma dibagian bawah terdorong keatas diantara retakan tersebut.

Apabila magma cair mempunyai kekuatan yang cukup besar, maka lapisan magma yang sudah memadat tersebut akan terus didesak keatas secara bertahap hingga akhirnya mencapai permukaan bumi dan terbentuklah gunung berapi. Konsistensi magma dapat berubah dari cair menjadi semisolid lalu menjadi padat selama proses pendinginan.

Magma yang bersifat semisolid atau setengah cair ini bersifat lentur sehingga dapat berfungsi menahan setiap getaran atau goncangan yang terjadi akibat benturan-benturan dari lempeng-lempeng yang bergerakan dan bertabrakan tersebut. Tedapat hubungan sebab akibat dan hubungan saling menstabilkan antara terbentuknya gunung berapi dengan benturan lempeng yang saling bergerak dan berbenturan. Hal ini dapat dibuktikan dimana di daerah yang banyak terdapat gunung berapi, maka banyak pula terjadi pergeseran dan pergerakan lempeng sehingga di daerah tersebut sering terjadi gempa baik yang yang bersakala kecil maupun yang besar.

Walaupun patahan tersebut hanya beberapa centimeter saja, akan dapat menghasilkan getaran hebat dipermukaan bumi. Terdapat dua jenis gempa bumi, yaitu Gempa Tektonik yang disebabkan oleh perbenturan atau patahan lempeng-lempeng dan Gempa Vulkanik yang disebabkan gejolak gunung berapi akibat tekanan dan desakan panas yang belum stabil dari bawah.

Bisa saja sebuah gunung berapi kelihatan kecil di permukaan, tetapi di dalamnya bagaikan akar pohon yang bercabang kemana-mana. Gunung berapi bagaikan tiang yang dipancangkan dengan dasar atau akar yang sangat kokoh menjulang ke dasar bumi. Sedemikian kokohnya kedudukan gunung-gunung diatas permukaan bumi sehingga sebesar apapun sungai yang ada tidak mungkin sanggup menggesar Gunung bergeser ke laut. Seperti yang disampaikan pada surat An Naml ayat 61 yang berbunyi;

Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui( qs An Naml 27:61) .***Sofyan Siroj

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*