Jangan Lupakan Dosa Saat Terjadi Musibah

SAAT ditimpa musibah manusia lupa dengan dosa-dosa yang telah dilakukannya, sehingga mereka bertanya kepada Allah atau kepada diri sendiri, apa dosa yang telah dilakukan hingga musibah ini terjadi.

Tetapi mengaitkan musibah yang terjadi dengan dosa yang dilakukan, meski lupa dosa yang mana, telah menunjukkan kesadaran dan kepekaan diri bahwa musibah yang terjadi memang berkaitan dengan dosa, karena itu bentuk muhasabah diri yang harus dilakukan oleh setiap insan beriman.

Allah berfirman: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar-Rum ayat 41).

Ali bin Abi Thalib RA pernah berkata: “Tidaklah musibah itu turun kecuali akibat dosa, dan tidaklah ia bisa diangkat kecuali dengan tobat nasuhah.”

Karena itu, tatkala bencana terjadi di suatu tempat lalu ada pihak menyebut keburukan yang dilakukan di tempat itu, hal itu tidaklah terlalu salah. Sebab, memang hampir seluruh kisah di dalam Al-Quran bahwa di mana suatu kaum dihancurkan oleh Allah dengan berbagai bencana selalu berkaitan dengan dosa yang mereka lakukan.

Dosalah yang menyebabkan kaum Nabi Nuh AS diazab dengan banjir besar yang bahkan menutupi gunung- gunung. Dosalah yang mengundang datangnya suara menggelegar kepada kaum Tsamud yang memotong jantung-jantung mereka. Dosalah yang menyebabkan negeri kaum Nabi Luth AS dibalikkan oleh Allah. Dosalah yang menyebabkan Fir’aun dan kaumnnya ditenggelamkan ke Laut Merah.Dosalah yang menyebabkan datangnya awan api yang menghujani kaum Syu’aib.

Seperti firman Allah: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS asy- Syura: 30).

Sungguh ironi ketika musibah datang justru tidak merasa berdosa, menganggap musibah yang terjadi hanya karena alam lagi murka dan tidak bersahabat.

Kita layak berkaca kepada para ulama (salaf) terdahulu bagaimana mereka memandang dan menyikapi musibah. Mereka tidak saja menyadari dan mengaitkan setiap musibah yang terjadi atas diri mereka dengan dosa, tetapi juga ingat dosa apa yang telah mereka lakukan. Sensitivitas atau kepekaan mereka terhadap perbuatan dosa sungguh luar biasa. Mereka adalah teladan kita dalam menyikapi musibah.**/SS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Dari Air Tiris Hingga Mesir, Inilah Perjalanan Hidup Sofyan Siroj

Desa Sentul, Air Tiris, Kabupaten Kampar, Riau.Dia anak kedua dari enam bersaudara. Ayahnya bernama Abdul ...