Nasehat Berkala

TATKALA nasehat diperdengarkan kepada seseorang, seringkali muncul dalam dirinya suatu kesadaran spontan. Namun, tatkala ia keluar dari majelis ilmu, hatinya kembali mengeras dan membatu.

Itulah mengapa, secara berkala kita perlu terus dinasehati, seperti tanaman yg perlu terus disirami, rumah yang perlu terus dibersihkan. Karena manusia adalah tempatnya lupa.
Ia terus dinasehati, ia ingat, sejenak kemudian ia bisa kembali lupa

Ada perbedaan cara sikap seseorang dalam menerima nasehat:

1.Nasehat itu laksana cemeti: ketika seseorang habis dipukuli dengan cemeti itu, ia seringkali tak merasa sakit.

2.Tatkala mendengar nasehat, kondisi jiwa dan pikirannya prima: dan terlepas dari segala ikatan duniawi. Diam dan menghadirkan hatinya.

Namun, tatkala kembali kesibukan dengan urusan dunia, penyakit lamanya kambuh. ( Ibnu al-Jauzi ).***Sofyan Siroj

x

Check Also

Kepemimpinan Itu Bukan Jalan Hidup Lelaki Biasa

Dalam alam demokrasi di Indonesia saat ini kepemimpinan erat kaitannya dengan politikus. karena jalur cepat ...