Muliakanlah Ibu dengan Berbakti Kepadanya

FIRMAN Allah SWT: “Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kalian kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku lah kalian kembali” (Luqman : 14).

Maka jika ada manusia yang boleh kita sujud padanya, manusia yang sangat pantas mendapatkan kemuliaan tersebut adalah ibu. Tapi sujud manusia hanyalah untuk Allah saja. Tetapi Allah memerintahkan kepada manusia untuk memuliakan ibunya dengan cara berbakti kepadanya.

Berbakti kepada orang tua tidak harus kaya. Jika kita tidak bisa atau tidak mampu membahagiakan mereka dengan limpahan materi, cukup berikan mereka kasih sayang yang memang menjadi hak mereka. Dan pada umumnya orangtua tidak mengharapkan materi dari anak-anaknya, karena perhatian dan aksih sayang lebih mereka harapkan ketimbang dicukupkan dengan materi tapi tidak mendapatkan perhatian.

Firman Allah: “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang mereka infakkan. Jawablah, “Harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapakmu, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu perbuat sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah : 215).

Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa seperti menitipkan “firman suciNya” di mulut orang tua. Sehingga ketika orang tua dikecewakan atau mereka sakit hati dengan ulah anaknya, lalu dia mengatakan sesuatu yang buruk untuk anaknya itu, baik sengaja atau tidak sengaja maka kata-kata itu bisa bernilai “kutukan”. Dan kutukan orangtua apalagi kutukan seorang ibu, bisa sangat mujarab.

Doa ibu begitu dekat dan kutukan dari kemarahan dan sakit hatinya juga begitu dekat. Tapi kalau ibu harus memilih, ketika dia disakiti, apakah akan berdoa untuk kebaikan anaknya atau mengutuk anaknya dengan segala kemurkaan? Maka biasanya ibu akan memilih yang pertama. Meskipun hatinya terluka akan perbuatan anaknya tapi ia tetap lapang dada.

Suatu hari seorang ibu menyiapkan makanan untuk menyambut tamu-tamu keluarga yang akan bersilaturrahim ke rumahnya. Ketika makanan sudah disiapkan, hanya menunggu beberapa saat lagi pada saat tamu akan hadir, tiba-tiba seorang anak lelakinya usia sekolah dasar masuk. Begitu melihat banyak makanan terhidang di atas meja, timbul naluri isengnya.

Si anak menghambur-hamburkan pasir ke atas makanan itu. Melihat anaknya melakukan keonaran, ibu itu marah besar, tapi dalam marahnya ia berkata, “Pergi sana kamu ! Biar Allah menjadikan kamu Imam di Masjidil Haram” Dan berpuluh tahun kemudian, setiap jemaah haji dan umrah dari seluruh pelosok dunia yang shalat di Masjidil Haram, akan mendengar suara anak kecil yang dimarahi ibunya dalam cerita di atas. Itulah dia cerita masa kecil Dr. Syeikh Abudarrahman As Sudais, Imam Besar Masjidil Haram.

Firman Allah: “Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, “Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil.” (Al-Isra : 24).

Sikap arogan kepada ibu adalah investasi buruk bagi masa depan seorang anak manusia. Cepat atau lambat ia akan menerima hasil dari sikap sombongnya. Kekayaan, kemenangan, kecantikan, kesehatan, popularitas, kesuksesan yang semuanya dilimpahkan Allah sebagai rezeki kita akan hilang begitu saja, hilang keberkahannya ketika seorang anak durhaka pada ibu kandungnya. Semua kemuliaan hidup bisa hilang tanpa bekas. Demikian pula sebaliknya ibu yang berbahagia karena bakti anak-anaknya akan memudahkan dan melipatgandakan rezeki mereka melalui doa yang tak putus.

Doa adalah senjata ampuh yang dimiliki oleh seorang ibu. Ketika dia mengangkat tangannya dengan gemetar, menundukkan kepalanya dengan takzim, hatinya bergetar dan suaranya lirih, memohon kebaikan, limpahan rezeki yang banyak untuk anak-anaknya kepada Allah, maka pintu-pintu langit akan dibuka seluas-luasnya untuk melesatkan doa sang Ibu sampai ke hadapan Allah. Barangkali juga malaikat yang suci berebut mencatat dan membawa doa sang ibu ke hadirat Allah. Apalagi doa yang keluar dari hati ibu yang bersih dan ikhlas.

Betapa mustajabnya doa seorang ibu. Keridhaan ibu akan mengundang ridha Allah turun pada anak-anaknya. Jika Allah sudah ridha pada kita melalui perantaraan doa ibu, siapa yang akan menghalangiNya melipatgandakan rezeki kita ? Bukankah Dia yang Maha Kaya dan akan memberi rezeki pada sesiapa yang dikehendakiNya?

Disamping doa, hal yang juga diharapkan seorang anak dari ibunya adalah restu. Restu ibu adalah pendorong datangnya berkah Allah. Restu lebih bersifat personal yang merupakan hak orangtua dan hubungannya hanya dengan anak-anaknya. Restu ibu pada setiap tindakan dan perbuatan kita akan memberi kejayaan dan kebahagiaan bagi hidup kita, Ingatkah saat akan menikah kita minta restu orang tua? Tentu saja agar perkawinan kita bahagia, langgeng dan berlimpah rezeki. ***/SS

Kalau mau diumpamakan beda antara doa ibu dan restunya seperti saat kita hendak melakukan perjalanan keluar negeri, doa itu laksana pasport yang harus dimiliki oleh setiap orang yang ingin keluar atau masuk di negara lain, sementara restu itu ibarat visa yang merupakan persetujuan negara yang akan kita masuki untuk masuk ke wilayah negaranya. Kita bisa memegang pasport agar bisa bepergian ke luar negeri tapi untuk masuk ke suatu negara harus ada visanya. Visa tidak bisa didapatkan kalau kita tidak punya pasport.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*