Merengkuh Khusyuk

KHUSYUK berarti tunduk (adz-dzull), merendahkan diri (al-inkhifadz), tenang (as-sukuun).Sedangkan secara istilah, menurut al- Qurthubi, khusyuk adalah suatu kondisi kejiwaan yang tampak pada ketertundukan dan ketenangan seluruh anggota badan. Khusyuk sangat diperlukan saat hamba-Nya melaksanakan ibadah shalat.

Seperti firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya.” (Al Mu’minun:1-2)

Rasulullah SAW juga bersabda: “Tidak ada seorang muslim yang pada saat shalat fardhu tiba, ia memperbagus wudhu’, khusyu dan ruku’nya kecuali hal itu akan menjadi kaffarat (penebus) dosa sebelumnya selama ia tidak mengerjakan dosa-dosa besar, dan hal itu berlangsung dalam setahun penuh.” (HR. Muslim)

Artinya, khusyuk merupakan menekan kegaduhan pikir dan riuh kehidupan sampai titik nol dan larut dalam jalan Tuhan saja. Tiada dunia yang menggoda, apakah keluarga, harta atau pun tahta. Segalanya sunyi, hanya Allah semata.

Berlaku khusyuk dalam shalat memang bukanlah perkara mudah. Butuh ikhtiar ekstra untuk mencapai tingkatan tersebut. Disebabkan sering kali ketika shalat antara ucapan dan pikiran, kepala dan hati tidak sinkron. Tak jarang, urusan duniawi yang awalnya lupa justru menjadi ingat sewaktu takbiratul ihram. Mulut melafazkan bacaan, tapi kalbu malah mengembara ke mana- mana.

Tetapi walaupun sulit, kita harus tetap berupaya menghadirkan hati dalam setiap bacaan dan gerakan shalat. Karena dengan kekhusyu’an, akan diampuni dosa-dosa dan dihapus kesalahan-kesalahan, dan ditulislah shalat di timbangan kebaikan.

Shalat, apabila dihiasi dengan khusyu’ dalam perkataan, dan gerakannya dihiasi dengan kerendahan, ketulusan, pengagungan, kecintaan dan ketenangan, sungguh, ia akan bisa menahan pelakunya dari kekejian dan kemungkaran. Hatinya bersinar, keimanannnya meningkat, kecintaannya semakin kuat untuk melaksanakan kebaikan, dan keinginannya untuk berbuat kejelekan akan sirna.***/SS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Dari Air Tiris Hingga Mesir, Inilah Perjalanan Hidup Sofyan Siroj

Desa Sentul, Air Tiris, Kabupaten Kampar, Riau.Dia anak kedua dari enam bersaudara. Ayahnya bernama Abdul ...