Kalimat Tauhid Merupakan Mahkota Iman Umat Islam

KALIMAT Tauhid Laa Ilaha Illallah merupakan mahkota dan landasan iman seseorang dan sebagai pintu utama masuknya nilai-nilai tauhid ke dalam hati. Kemudian membenarkan apa yang wajib diimani dan membuktikannya dengan amal perbuatan yang nyata.

Kalimat Laa ilaaha illallah yang didahului dengan huruf Nafi “Laa” berarti meniadakan sesuatu, dan kemudian diikuti oleh huruf Istitsna’ “Illa” berarti mengecualikan yang tidak ada menjadi ada, yaitu Allah ‘Azza wajalla, Tuhan yang Mencipta dan Mengatur alam semesta ini.

Allah ‘Azza wajalla berfirman yang artinya: “Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit .Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka mengambil pelajaran”. (QS. Ibrahim 24-25)

Yang dimaksud dengan kalimat yang baik pada ayat di atas adalah kalimat Tauhid dimana akarnya adalah membenarkan dalam hati, sedang cabangnya pengucapan dengan lisan dan buahnya adalah perbuatan melalui anggota badan.

Ibnu Katsir menafsirkan firman Allah ‘Azza wajalla yang artinya : “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat, karena itu barang siapa yang ingkar kepada thagut (sembahan selain Allah) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh pada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Al Baqarah : 256)

Beliau mengatakan : “Bahwa orang yang telah melepaskan diri dari belenggu syaithan yang selalu mengajak untuk menyembah selain Allah, dan ia meng-Esakan Allah, lalu menyembah hanya kepada-Nya dan dia bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, maka dia telah berpegang teguh kepada tali yang amat kuat yang tidak akan putus yaitu pada jalan yang benar”.

Suatu ketika ada seseorang yang berkata kepada Hasan Al Bashri -rahimahullahu- : “Sesungguhnya manusia banyak yang mengatakan bahwa orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah pasti ia akan masuk Syurga !”, kemudian Hasan Al Bashri -rahimahullahu- meluruskan dan menyempurnakan pendapat tersebut dan berkata “Orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah lalu dia melaksanakan hak dan kewajibannya maka orang itu akan masuk Surga.”

Dengan demikian kalimat Laa ilaaha illallah memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang yang mengimaninya yaitu :

* Ilmu yang tidak dicampuri dengan kejahilan.
* Keyakinan yang tidak dicampuri dengan keraguan
* Ikhlas yang tidak dicampuri dengan syirik
* Kejujuran yang tidak dicampuri oleh dusta.
* Cinta yang tidak dicampuri oleh kebencian
* Ketaatan yang tidak dicampuri oleh pembangkangan
* Penerimaan yang tidak dicampuri oleh penolakan.
* Pengingkaran terhadap seluruh yang disembah selain Allah ‘Azza wajalla.

Seseorang yang telah mengamalkan kalimat Laa ilaaha illallah ini dengan cara melaksanakan segala perintah Allah ‘Azza wajalla dan menjauhi larangan-Nya, maka dia akan mendapat keutamaan-keutamaan yang sangat agung, diantaranya :

Hartanya dan darahnya diharamkan oleh Allah ‘Azza wajalla, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam : “Barang siapa yang berkata : Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan ia mengkufuri sesembahan selain Allah maka haramlah (diganggu) hartanya dan darahnya dan perhitungannya atas Allah” (HR.Bukhari).

Tubuhnya tidak akan disentuh oleh api Neraka, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dengan tulus ikhlas dari hatinya, maka ia tidak akan disentuh oleh api Neraka” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Abu Nu’aim).

Kalimat Laa ilaaha illallah merupakan kunci Syurga sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam : “Barangsiapa yang akhir dari perkataan-nya Laa Ilaaha Illallah maka ia akan masuk surga”. (HHR. Ahmad dan Hakim).

Dia akan mendapatkan faedah dan manfaat dari kalimat Tauhid, yaitu membentuk suatu sikap yang mulia seperti zuhud (tidak mementingkan kemewahan kehidupan dunia), tawakkal, malu untuk melakukan hal-hal yang diharamkan, syukur terhadap ni’mat Allah ‘Azza wajalla serta kaya hati (yaitu suatu sikap bahwa hatinya hanyalah bersandar kepada Allah ‘Azza wajalla semata).

Dengan mengetahui keutamaan-keutamaan tersebut, maka sepantasnyalah bagi orang yang mengaku beriman dan bertaqwa kepada Allah untuk menjabarkan makna kalimat tauhid ini kedalam kehidupannya, sehingga dapat menimbulkan perasaan cinta yang besar kepada Allah.

Bukti dari kecintaannya tersebut adalah meyakini bahwa Dialah Pencipta alam semesta ini yang Mematikan dan yang Menghidupkan setiap makhluk-Nya dengan melaksanakan ‘ibadah kepada Allah dengan ikhlas, bertawakkal hanya kepada-Nya, meminta pertolongan dan perlindungan hanya kepada-Nya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Dari Air Tiris Hingga Mesir, Inilah Perjalanan Hidup Sofyan Siroj

Desa Sentul, Air Tiris, Kabupaten Kampar, Riau.Dia anak kedua dari enam bersaudara. Ayahnya bernama Abdul ...