Jabal Rummat, Bukti Keingkaran pada Rasul yang Menyebabkan Kematian

JABAL Rumat berada berhadap-hadapan dengan Jabal Uhud, dua bukti yang menjadi gerbang sekaligus benteng pertama kota Madinah. Jabal Rumat adalah sebuah bukit merah. Disebut Jabal Rumat karena disitu Rasul Saw menunjuk 50 orang pemanah (rummat) untuk bersiaga dalam perang Uhud, yang dikomandani oleh Abdullah ibn Jabir r.a pada tahun 3 Hijriah.

Ketika itu masih dalam suasana Syawal, yang seharusnya damai dan indah karena baru saja Idul Fitri dirayakan. Tetapi kaum muslimin harus menghadapi pertempuran besar dengan kaum kafir Quraisy. Pertempuran ini terjadi setahun selepas Perang Badr, perang yang dimenangkan secara gilang gemilang oleh kaum Muslim (313 orang bisa mengalahkan 1000 orang). Tentunya kaum kafir Quraisy tidak bisa menerima kekalahan tersebut dan hendak menuntut balas.

Peperangan kemudian pecah di gerbang Madinah, di komplek perbukitan Uhud, sekitar 6,4 Km dari Masjid Nabawi. Maka perang ini pun disebut Perang Uhud. Jumlah pasukan kaum muslimin hanya 700 orang, berhadapan dengan kaum kafir Quraisy dengan jumlah 3000 orang.

Rasulullah pun menata sedemikian rupa strategi peperangan, agar kaum muslimin menang. Pasukan utama di sayap kanan menempati Jabal Uhud. Ini bisa melimitasi pergerakan musuh dan mempertahankan sebanyak mungkin pasukan, mengingat jumlah yang tidak sebanding.

Kemudian 50 orang pemanah pilihan ditempatkan di Jabal Ainan, seberang Jabal Uhud. Posisi ini sangat penting, karena bisa menghindari serangan musuh dari balik bukit dan keakuratan anak panah terhadap pasukan lawan serta dapat mengontrol jalannya peperangan.

Nabi Saw berpesan kepada 50 pemanah yang dipimpin Abdullah bin Jubair: “gunakan panahmu terhadap pasukan musuh. Jauhkan pasukan musuh dari belakang kita. Selama kalian tetap di tempat, bagian belakang kita aman. jangan sekali-sekali kalian meninggalkan posisi ini. Jika kalian melihat kami menang, jangan bergabung; jika kalian melihat kami kalah, jangan datang untuk menolong kami.”

Di kubu seberang, kaum kafir Quraisy dipimpin oleh Abu Sofyan, yang saat itu masih kafir, belum jadi muslim yang taat. Pasukan terbagi dalam pasukan utama di tengah dengan dua sayap, di kanan dipimpin Ikrimah bin Abu Jahal (yang sangat bernafsu membalas dendam kematian ayahnya di peperangan Badr), di kiri dipimpin Khalid bin Walid (ahli perang yang kala itu masih kafir juga, belum jadi panglima handal kaum muslim).

Peperangan dimulai. Seiring waktu berjalan, strategi kaum Muslim ternyata terbukti lebih jitu. Kemenangan sudah di depan mata. Musuh sudah banyak yang berlari meninggalkan banyak harta rampasan perang. Nah, di saat itulah perintah Rasul dilanggar oleh mereka yang berada di Jabal Ainan. Pasukan pemanah yang diharuskan tetap berada di Jabal Ainan justru turun dan berebut harta rampasan perang, sambil berteriak, “rampasan, rampasan.”

Kelengahan ini dibaca dengan baik oleh Khalid bin Walid. Pasukannya segera memimpin pengitaran bukit dan berbalik melakukan penyerangan kilat dalam kondisi kaum muslim yang tak waspada. Pos di atas bukit pun beralih menjadi milik kaum kafir Quraisy. Akibatnya, pasukan Islam kocar kacir, cukup banyak yang gugur sebagai syuhada, termasuk paman Rasulullah, Hamzah. Rasulullah pun terluka cukup parah. Jelas umat muslim menderita kekalahan. Untuk menjadi pelajaran dan peringatan, bukit itupun dinamai Jabal Rummat atau bukit para pemanah.

Pelajaran dari perang Uhud ini tertulis di Al Quran surat Ali Imran: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar (ayat 142). Bahkan jika Muhammad sendiri mati terbunuh, Muslim harus terus berperang (ayat 144), karena tiada seorang pun yang mati tanpa izin Allah (ayat 145). Lihatlah para nabi yang tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah (ayat 146). Para Muslim tidak boleh taat pada kafir (ayat 149), karena Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut (ayat 151).***/zie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Dari Air Tiris Hingga Mesir, Inilah Perjalanan Hidup Sofyan Siroj

Desa Sentul, Air Tiris, Kabupaten Kampar, Riau.Dia anak kedua dari enam bersaudara. Ayahnya bernama Abdul ...