ARTIKEL

Rumah Al Qur’an “Dari Pekanbaru Riau Mengaji”

Sofyan_Siroj_Lc_MM

PEKANBARU – Selain fokus kepada pengembangan enterpreneur di masyarakat, program 100 hari DPD PKS Kota Pekanbaru yang menjadi fokus utama lainnya ialah pengembangan rumah Qur’an. Targetnya, lahirnya para penghafal Qur’an dari setiap rumah-rumah yang ada di Pekanbaru khususnya dan Riau secara umumnya.

Berikut wawancara khusus wartawan BertuahPos.com Muhammad Junaidi dengan Ketua DPD PKS Kota Pekanbaru Sofyan Siroj Lc MM yang juga alumni Al Azhar Cairo Mesir, dalam rangka mengembangkan program Rumah Al Qur’an ‘Dari Pekanbaru Riau Mengaji’.

Selain mendorong lahirnya enterprenuer atau wirausaha-wirausaha baru, Anda juga menggagas lahirnya para penghafal Qur’an disetiap rumah. Sebenarnya, apa yang di inginkan DPD PKS Kota Pekanbaru?

Kita ingin terwujudnya masyarakat dan negeri yang tidak asing dengan Al Qur’an. Munculnya para  huffads di Kota Pekanbaru. Kemudian terwujudnya proses pembinaan Tahfidz di masjid – masjid dan sekolah-sekolah, baik negeri maupun swasta.

Kita ingin terbangunnya kebiasaan kaum Muslimin suka mengaji dan suka menghapal, dan itu di mulai dari sini, Pekanbaru mengaji. Sekarang, orang tua dan anak-anak jauh satu sama lain, jauh dari Al Qur’an, jauh dari masjid. Kita tidak ingin itu, kita ingin masjid menjadi tujuan masyarakat dan para orang tua bersama anak-anaknya akrab dengan al Qur’an.

Contohnya?

Misalnya, program tahfidz Al Quran menjadi pilihan alternative bagi orang tua dan anak selepas waktu sekolah, sehingga terhindar dari waktu kosong yang sia-sia.

Sebenarnya Apa Yang Melatar Belakangi Lahirnya Pekanbaru Mengaji?

Sederhana saja, kita ingin Pekanbaru menjadi kota yang maju, makmur, unggul dan memiliki mental yang luar biasa, khususnya kaum Muslimin. Coba kita perhatikan, program tahfidz sampai sekarang ini masih berkiblat ke jawa, Sumatra Utara dan Jambi.

Padahal, banyak potensi dan bakat – bakat dari pondok pesantren yang ada di Riau yang belum diberdayakan untuk menjadi huffadz. Saat ini masih banyak jumlah masjid yang belum berfungsi untuk pembinaan generasi berbasiskan Al Qur’an.

Jadi Minat dan Kecintaan Alquran di Pekanbaru masih kecil?

Dari kajian kami terlihat masih lemahnya minat mengaji alquran. Sesungguhnya hal ini dapat dilihat, dan jika perlu dilakukan penelitian secara mendalam. Misalnya, berapa orang yang mampu mengaji di dalam sebuah keluarga? Berapa kali mengaji dalam sehari?  Berapa orang baliqh di rumah dan berapa buah Quran ada di rumah? Semua ini merupakan indikator masih lemahnya minat mengaji.

Lantas Program Apa Saja Yang Akan Digalakkan?

Pertama, kita akan mendorong program pembiasaan mengaji di kalanganmasyarakat. Kedua, kita mendorong dan mewujudkan kecintaan menghapal Al Qur’an. Selanjutnya kita akan menjalankan progam tahsin dan tahfidz. Kita akan libatkan semua pihak demi Pekanbaru yang lebih baik lagi, dari Pekanbaru Riau Mengaji.

Bagaimana Langkah – Langkahnya?

Tentu ada tahapan –tahapannya. Di tahun pertama, pembiasaan dan mewujudkan kecintaan kepada Al Qur’an (lancar membaca Al Qur’an) . Di tahun kedua, program tahsin (WisudaTahsin 2 kali setahun). Kemudian di tahun ketiga, program Tahfidz Al Qur’an.

Jika ini Berjalan, Apa Yang Akan Terjadi?

Segala sesuatunya akan menjadi luar biasa. Pekanbaru akan menjadi pusat perhatian nasional, bahkan dunia. Mengapa? Karena di Pekanbaru masjid menjadi pusat sentral kegiatan masyarakat berbasis alquran. Menjadikan sekolah sebagai basis awal untuk integrasi alquran dalam proses pendidikan. Munculnya masyarakat yang terbiasa membaca Al Qur’an

Tidak itu saja, selain hadirnya masyarakat ke masjid untuk baca Al Qur’an, juga semakin bertambahnya interaksi antar kaum muslmin dan interaksi dengan Al Qur’an di setiap kecamatan yang waktunya disesuaikan sebagai dasar untuk membentuk masyarakat yang madani. Orang-orang terbiasa membawa Al Qur’an dikantor-kantor, sekolah-sekolahdantempatlainnya.

Apa Pengaruhnya Jika ini Terwujud?

Jika progam ini berjalan, maka diantara outcome nya ialah berkurangnya korupsi karena  berinteraksi dengan Al Qur’an. Berkurangnya tradisi tawuran dikalangan pelajar. Menurunnya tingkat kriminalisasi  di Kota Pekanbaru. Lahirnya generasi Qur’ani sebagai pemimpin masa depan

Selanjutnya, tersalurnya para huffadz sebagai imam Masjid di Kota Pekanbaru dan sekitarnya. Meningkatnya kekuatan keilmuan dan intelektualitas generasi bangsa karena berinteraksi dengan Al Qur’an. InsyaAllah.(mj/bpc)

Inilah Salah Satu Rahasia Kesuksesan

Sofyan Siroj yang juga Ketua DPD PKS Pekanbaru

Oleh Sofyan Siroj Lc MM

Sudah dapat dipastikan, bahwa setiap orang ingin sukses. Ada yang ingin sukses dalam bekerja, sukses dalam membangun rumah tangga, sukses dalam berkarir, sukses dalam berbisnis, sukses dalam pendidikan dan sukses di berbagai bidang kehidupan.

Namun semudah itukah untuk sukses? Tentu jawabannya tidak. Faktanya, banyak yang bingung dan tak tahu harus memulai dari mana agar bisa mewujudkan satu kata itu, ‘sukses’.  Banyak yang menyangka bahwa untuk sukses harus memiliki modal? Harus memiliki relasi yang kuat, harus berpendidikan tinggi? Harus pintar bicara dan lainnya.

Fakta juga, tidak semua itu benar. Coba simak kata Chairul Tanjung Pemilik Trans Corp Media saat ditanya seorang peserta dalam sebuah bedah buku di Gramedia tahun 2012 lalu tentang kesuksesannya, dari mana ia memulai dan apa yang dilakukannya.

“Di mana-mana peran ibu menjadi kunci yang besar bagi hidup. Di agama yang saya anut, selalu mengedepankan peran ibu sangat penting. Pertama itu selalu ibu, yang kedua ibu, yang ketiga ibu. Baru yang keempat bapak. Peran ibu itu begitu luar biasa. (Oleh karena itu) yang masih memiliki ibu, memiliki orangtua. Jaga, rawat, hormati, jangan pernah sakiti hatinya. Kenapa? Ibu adalah “jimat” kesuksesan saya dan anda.

Tidak pernah ada orang sukses yang tidak hormat pada orangtuanya. Apalagi kepada ibunya. Karena ibu itu kalau berdoa, paling lempeng, paling cepat diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, betul, ibu adalah kunci dari kesuksesan saya, dan anda!”

Sabtu, 10 November 2012, Toko Buku  Gramedia Surabaya.

Benar, sesungguhnya, untuk memulai membangun sebuah kesuksesan itu sangatlah sederhana, yakni memulai dari diri sendiri dalam hal ini sikap (attitude) kita terhadap orang terdekat yakni Ibu dan Bapak kita. Bisa dipastikan, bahwa para tokoh, pengusaha, profesional, alim ulama dan orang – orang ‘besar’ nan sukses memiliki satu sikap ini, memuliakan kedua orang tuanya teristimewa sang ibu.

Benar, seolah-olah kata Sukses tak bisa lepas dari kata Ibu. Ya, kata sukses melekat dengan kata ibu. Hampir bisa dipastikan semua agama juga sependapat dengan hal ini. Bagaimana Nabi Isa AS menghormati ibundanya Maryam, bagaimana Nabi Muhammas SAW mencintai dan menghormati Ibundanya Aminah, dan bahkan setiap ibu yang ditemuinya tak lepas dari perhatian dan kasih sayangnya.

Jika kata Sukses melekat dengan kata Ibu, lantas apa yang menyebabkan hal itu sehingga langkah pertama untuk memulai kesuksesaan apapun dimulai dari seorang ibu!

Mari kita simak ayat Luqman (14) ini:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-Bapaknya (al walidain); ibunya (al umm) yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah.”(QS. Luqman: 14)

Itulah Ibu, dialah sumber kasih sayang, mengasuh dan memberi tanpa batas. Dialah prajurit malam yang selalu berjaga dan terjaga. Menemani ketidak berdayaan kita. Dia selalu mendahulukan anaknya dari dirinya sendiri, mencintai tanpa menuntut balas.

Ibu, sebuah kata yang jujur nan kuat, diucapkan semua makhluk hidup dalam bahasanya masing – masing. Dengan kata ‘ibu’ para makhluk itu mendapatkan kasih sayang, ketulusan hati, kehangatan, pengorbanan, cinta yang agung, yang dicipta dan ditumbuhkan Allah dalam diri semua ibu terhadap anak-anaknya. Karena itu, Allah swt berwasiat kepada manusia untuk taat kepadanya, seperti juga Rasul-Nya telah berpesan agar kita senantiasa berbakti kepadanya.

Ada dua kata yang selalu dipakai Al Qur’an untuk menyebutkan ibu: “Umm” dan kata “walidah”. Kata“umm”, digunakan Al Qur’an untuk menyebutkan sumber yang baik dan suci untuk segalahal yang besar dan penting. Maka Makkah Al Mukarramah disebut “ummul Qura” karena kota ini adalah tempat turunnya risalah yang diberikan Allah azzawajalla kepada Islam, yang merupakan inti ajaran para Rasul dan semua risalah.

Allah juga menyebut kata “Umm” untuk sesuatu yang menghimpun ilmu-Nya, yaitu pada lafaz “UmmulKitab”.  Allah berfirman:

“Allah menghapus apa yang Ia kehendaki menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi –Nyalahterdapat Ummul Kitab (LauhMahfuzh).”(QS. ArRa’d: 39).

Pada kerangka inilah, Al Qur’an kemudian membedakan antara kata “Umm” dan“walidah”, dimana Allah menyebut ”walidah” kepada perempuan yang melahirkan anak, tanpa melihat karakter dan sifatnya yang baik atau yang buruk. Karena ternyata ada juga segelintir ibu yang tidak punya hati terhadap anaknya. Kata “walidah” digunakan hanya karena proses melahirkan, baik bagi manusia maupun makhluk lain, dengan keadaan – keadaan yang menyertainya, hamil dan menyusui, seperti firman Allah swt,

“Para ibu hendaklah menyusukan anak anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang inginmenyempurnakan penyusuan.”(QS. Al Baqarah:233).

Ibu yang dibahasakan “walidah” inilah tempat menumpahkan segala bakti, pemuliaan, tanpa membedakan apakah ia baik atau tidak.  Allah swtberfirman,

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamuberbuat baik pada Ibu Bapakmu (al walidain) dengan sebaik baiknya.”

(QS. Al  Isra’:23)

Adapun “Umm” seperti telah disebutkan diatas, Al Qur’an menggunakannya untuk menyebutkan sesuatu yang menjadi sumber kemuliaan, merupakan symbol pengorbanan, penebusan, kesucian, kejernihan, cinta dan kasih sayang. Sumber yang menjadikan seseorang tumbuh menjadi manusia terhormat, menemukan kemuliaan, dan bangga menisbahkan dirinya kepada ibu yang melahirkannya. Mari kita perhatikan perbedaan itu ketika Isa alaihissalam bicara soal kewajiban berbakti dan menghormati ibu, dimana Allah swt berfirman,

“Dan berbakti kepada ibuku (walidati), dan dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagicelaka.”(QS. Maryam:32)

Namun ketika Al Qur’an mengisahkan tentang Isa as dan tentang karakter dan sifat ibunya yang mulia itu, ia menggunakan kata “umm” Allah berfirman,

“Al Masihputra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberaparasul, dan ibunya (ummuhu) seorang yang sangat benar.”(QS. Al Maidah: 75)

Pun ketika Al Qur’an hendak menarik perhatian anak – anak agar memperhatikan ibu yang telah melahirkannya dengan segala kendala dan kesulitan, Al Qur’an menggunakan kata “umm”. Karena dari ibu, memancarkan cahaya kesabaran dan kemuliaan pada hari kiamat, sehingga kita diperintahkan untuk memuliakannya di dunia dengan pemuliaan yang mutlak dan tanpa batas.

Inilah sebagian yang menyebabkan Kesuksesan melekat pada Ibu. Siapapun yang ingin memulai kesuksesan dalam hal apapun, dalam bidang apapun, dalam aspek kehidupan apapun, maka mulailah dari Ibu. Hormati, muliakan, penuhi hak –  hak Ibu dan berbaktilah hingga akhir hayat kepada ibu, baik yang masih ada maupun yang telah tiada, karena berbakti kepada ibu tidak hanya sebatas semasa ibu masih ada.

Dihari ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember ini, maka sepantas dan seharusnya kita memanfaatkan momentum yang luar biasa ini. Jika kita salah dalam memulai langkah dimana terabaikannya Ibu, maka saat ini jua kita harus memperbaikinya agar kelak tiada penyesalan. Jika kita sudah memulainya, maka ada baiknya kita koreksi ulang, karena bisa jadi kemuliaan yang mesti kita berikan kepada ibu masih belum sebagaimana mestinya. Wallahualam. (Penulis adalah Sofyan Siroj Lc MMDirektur Qolbu Re-Engineering)

Syahadat Pintu Gerbang Kebahagiaan dalam Islam

kebahagiaan

Semua muslim mengucapkan syahadat sebagai gerbang untuk masuk ke dalam agama Islam. Setiap muslim wajib menguak dan mendalami makna yang dikandung oleh syahadat dan menjadikannya sebagai titik perubahan.

            Sejak dulu hingga hari ini jika manusia diajak untuk berpindah kepada Islam mereka akan senantiasa bertanya, Apa yang saya dapatkan dalam Islam? Apakah saya akan memperoleh kebahagiaan ? Selalu saja pertanyaan seperti itu muncul. Kesalahan yang sering dilakukan umat Islam adalah mereka berhenti pada mengucapkan syahadat. Syahadat hanya pelengkap identitas untuk bisa disebut sebagai seorang muslim. Banyak yang tidak tahu tentang Islam sama sekali bahkan yang paling dasar sekalipun. Bahkan, untuk melafalkan kembali syahadat (yang dulu pernah diucapkan) sudah cukup membuat kerepotan. Mustahil Mereka menemukan kebahagiaan dalam Islam. Serta mustahil umat Islam menjadi pemimpin peradaban (trendsetter) yang menjadi rujukan semesta. Selaras dengan yang diproklamirkan Islam rahmatan lil’alamin.

Mempelajari Islam sesungguhnya adalah mempelajari kebahagiaan. Kebahagiaan dunia yang ditandai dengan khusyuknya kita beribadah kepada Allah SWT. Dalam al-Qur’an, syarat khusyuk ada dua hal ; tidak ada rasa lapar, dan tidak ada pula rasa takut. Kondisi inilah yang disebut dengan sejahtera, aman dan tenteram. Dalam keadaan begini seorang manusia bisa beribadah dengan sangat baik. Keyakinan akan pertolongan dan keputusan yang ditetapkan Allah SWT akan membuat hati seorang muslim menjadi tenang.

Syahadat adalah pintu gerbang untuk berislam. Sehingga tidak bisa dikatakan berperilaku islami jika syahadat belum diikrarkan, sebaik apapun perilaku tersebut. Abu Thalib adalah contohnya, paman nabi Muhammad SAW, ia melakukan segala macam cara melindungi  Rasulullah  dan dakwahnya. Namun sampai akhir hayat ia tidak mengucapkan syahadat. Sehingga segala amal yang dilakukan Abu Thalib menjadi sia-sia.

“ Dan kami perlihatkan kepada mereka segala amal yang mereka kerjakan. Lalu kami menjadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” (QS. Al-Furqan :23)

Begitulah amal-amal orang kafir, diakui oleh Allah SWT. Disebabkan mereka tidak berislam maka amal kebaikan mereka menjadi tiada berguna.

Ikrar syahadat merupakan  titik balik dan awal perubahan kepada yang lebih baik. Pemahaman dan pendalaman makna syahadat mutlak dilakukan. Banyaknya kemaksiatan dan kejahatan dilakukan oleh orang yang mengaku beragama Islam,  merupakan   pertanda bahwa mereka tidak memahami secara benar makna syahadat yang diucapkan.

Ada Apa Dengan HATI?

hati jantung

Sesungguhnya dalam bertauhid pembahasan tentang hati merupakan agenda utama. Tujuannya agar bisa menghubungkan diri kepada Allah. Untuk itu perlu penyelarasan dari ilmu tauhid dan syariat yang sebelumnya (oleh kebanyakan orang) telah dipelajari.

“Man ‘Arofa Nafsahu faqod ‘Arofa Rabbahu”, dimana maksudnya ialah “Barangsiapa mengenal dirinya (nafsahu) maka ia akan mengenal Tuhannya”.

Begitulah pentingnya kita mengenal diri, karena pengenalan terhadap diri merupakan syarat mutlak untuk dapat mengenal Allah yang merupakan awalnya beragama.

Salah satu sahabat yang kualitas Hatinya didik langsung oleh baginda Rasulullah SAW, Imam Ali r.a. mengatakan, “Awwaluddin Ma’rifatullah”, yakni “Awal dari agama adalah mengenal Allah”.

Kalimat sepenggal tersebut sangat jelas, singkat, padat dan memiliki makna yang sangat dalam. Kalimat tersebut menegaskan bahwa sangatlah penting kita mengenal (menguasai, menjaga) hati kita. Bukan saja mengenal bumi, matahari, langit, bintang, jagat raya atau alam semesta beserta isinya. Bukan saja mengenal ciptaan Allah tetapi mengenal Yang menciptakan. Inilah Hakekatnya. Bukan saja mengenal tanda-tanda kebesaran Allah, tetapi Yang memiliki tanda tersebut.

Kaitannya, untuk mengenal Allah maka sejogjanya kita harus mengenal diri (An-Nafs) terlebih dahulu. Dari sini akan dapat diketahui esensi diri yang sebenarnya dan merupakan awal dari seseorang beragama dengan haq. Pengenalan kepada diri merupakan kunci untuk mengenal Tuhan, bahkan tujuan pengetahuan itu sendiri adalah untuk mengenal diri.

Secara sederhananya, kita dapat melihat Hati seseorang dari apa yang tampak, meskipun ini tidak mutlak. Mengapa, karena diri manusia dapat dilihat secara inderawi dengan perilaku dan perangainya. Dari seseorang berperilaku, seseorang berperangai, merupakan cerminan dari hatinya. Sehingga untuk mengenal diri kita, kita harus memulainya dengan mengenal hati (qalb).

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya di dalam diri manusia ada segumpal darah (hati), apabila hati itu baik maka baik pula seluruh diri dan amal perbutan manusia dan apabila hati itu rusak, maka rusaklah seluruh diri (amal perbuatan manusia tersebut). Ingatlah, ia adalah hati.” (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Nu’man Ibn Basyir ra).

Meskipun tidak seorangpun yang mengetahui isi hati orang lain kecuali Allah SWT dan dirinya sendiri, sesungguhnya Hati yang bersih mempunyai tanda-tanda yang nampak dizhahirnya. Sebab hati yang baik dan suci akan melahirkan amal ibadah yang shaleh dan tindak tanduk yang baik.

Tanda-tanda hati yang suci sebagaimana disinggung dalam Al-Qur’an bisa disebutkan diantaranya, tentram apabila ia berzikir kepada Allah. Tidak itu saja, seseorang yang mengenal Hatinya dengan sangat baik, maka kecendrungan akan gemetar hatinya bila ingat kepada Allah. Ia takut dan sekaligus berharap kepada sang pemilik Hati.

Seperti dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an surat AL-ANFAL: 2, yang berbunyi,  “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal.”

dan Surat AL-HAJJ: 34-35, yang berbunyi: “…Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka.”

Seseorang yang mengenal dan menjaga Hatinya ia akan selalu berkompetisi dalam kebaikan, dan senantiasa mengagungkan syiar-syiar Islam.  Dikarenakan Hatinya selalu ia upayakan terjaga, maka ia tidak dengki kepada saudaranya, tidak mengharapkan balasan bila berbuat kebaikan, dan terus mengupayakan keimanannya agar terus meningkat.

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)…”

Maka dengan hatilah, seseorang dapat merasakan iman, dengan hatilah seorang hamba dapat mengenal Rabb-nya. Wallahualam.

Bahasa, Sejarah dan Budaya Menyatukan Kita

Sofyan Siroj yang juga Ketua DPD PKS Pekanbaru

Thomas Carlyle Pujangga Inggris pernah mengatakan :

Amerika telah berpisah dengan kita. Namun bahasa selau mempertemukan kita dengan Amerika. Satu waktu Indiapun akan lepas dari kita, namun Bahasa Inggris akan selalu mengikat kita dengan India.”

Begitulah pula saya berkata sekarang, dalam majelis seminar ini, di hadapan saudara-saudara kita yang datang sebagai peninjau (pemerhati) dari Singapura dan Malaysia, yaitu dari Johor, Malaka, Kedah dan dari University of Malaysia.

Mari mudikki sejarah ke hulu

Dimana tersekat lekas elakkan

Pusaka nenek yang dulu-dulu

Sama dibuhul, sama diikatkan

Sebaris tiada yang lupa

Setitik tiada yang hilang

Yang diarah, yang dicita

Pegangan teguh malam dan siang

Yaitu sejarah, bahasa dan budaya. Tidak melayu hilang di dunia. Melayu tetap berseri, berpalun dan berpilin dalam jiwa kita, kita pupuk dalam Indonesia yang merdeka, kita pupuk dalam Malaysia yang merdeka ![1]

Sengaja kami ketengahkan di hadapan kita semua mengenai sejarah. Karena sejarah adalah jati diri dari suatu bangsa. Sejarah adalah kumpulan pengalaman suatu bangsa atau kaum di masa yang lalu. Baik itu berupa kumpulan kebaikan ataupun kumpulan kekhilafan. Krisis-krisis yang mereka hadapi dan bagaimana mereka mencari solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Kita dapat meneladani keteguhan hati mereka dan juga tidak mengulangi kelemahan mereka. Sehingga kita mendapatkan kebijaksanaan dalam menapaki tangga sejarah kita saat sekarang ini. Teguh dalam menghadapi masalah dan tidak bersifat lemah bahkan menyerah pada keadaan.

Bagi mereka yang meneguhkan diri

Mendapatkan keteguhan hati …

Bagi mereka yang mulia

Dianugrahi perbuatan yang mulia

Dimata yang lemah …

Sedikit kemalangan terlihat dahsyat

Dimata mereka yang kuat …

            Kekurangan sungguh suatu kesukaran

Semoga untaian geliga sejarah ini akan dapat kita jadikan kompas dalam mengharungi kehidupan kita ke depan. Mengalun langkah dalam tapak-tapak sejarah yang semakin terjal dan berliku sehingga tidak mendapatkan kerugian.

Demi masa, kita memang zalim dan selalu merugi

Demi masa, Sesungguhnya kita jarang mensyukuri

Demi masa, sesungguhnya banyak cobaan dan mihnah

Demi masa, sesungguhnya syetan selalu mencari celah merayu diri ini

Demi masa, hanya al-Qur’an yang akan menjaga alpa diri

[1] Hamka: Perbendaharaan Lama.

Dan Asa itu bernama Ekonomi Berjama’ah

slide1

PEKANBARU – Baru beberapa hari dilantik menjadi Ketua DPD PKS Pekanbaru, Sofyan Siroj Lc MM sudah memiliki gebrakan dalam mengembangkan ekonomi rakyat. Sofyan Siroj yang juga dikenal sebagai dai sekaligus pengusaha di Pekanbaru ini memaparkan pandangan dan langkahnya, yang akan dilakukan dalam mendorong usaha di masyarakat, usaha di dalam keluarga. Dilansir dari laman bertuhpos, berikut petikan wawancaranya dengan Muhammad, wartawan BertuahPos.com.

Ekonomi melambat, bagaimana Anda melihat ekonomi di Pekanbaru dan Indonesia secara umum?

Layaknya roda yang selalu berputar, ekonomi adalah hal yang tidak dapat dipisahkan bagi setiap orang. Entah mereka dari kalangan kurang mampu sampai yang paling mapan sekalipun.

Bahkan dalam perlambatan ekonomi seperti sekarang ini, tingkat konsumsi masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari tetap berjalan.

Mengambil tema Ekonomi Berjama’ah yang bertajuk berjejaring, bertumbuh, berbagi, kita ingin mengembalikan “kolam-kolam ummat” kepada pemiliknya. Sebagaimana sabda Nabi saw, “Sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang shalih” (HR. Muslim).

Bagaimana peran dari umat Islam dalam aktivitas perekonomian di Indonesia maupun Pekanbaru?

Seorang muslim, harus menjadi peran utama dalam menjalankan roda perekonomian. Namun apa yang kita lihat hari ini terbalik. Sebagai contoh saja saat Hari Raya Idul Fitri & Idul Adha yang merupakan “kolam umat islam”, namun bertahun-tahun sudah yang lebih dominan menyiapkan stok baju lebaran dan berbagai keperluan sembako kita justru orang lain.

Kalaupun ada inisiatif-inisiatif yang selama ini digagas oleh sebagian elemen ummat, sebagian besarnya masih sangat mudah dipatahkan dalam pertarungan ekonomi dan bisnis yang asimetris (tidak berimbang).

Jadi bagaimana? Apa solusinya, apa langkahnya?

Inilah urgensi kita kembali mentadabburi Al-Qur’an, khususnya dalam menggali keterikatan antara perniagaan dengan sebuah barisan yang teratur. Sebagaimana rapih dan teraturnya barisan saf sholat berjama’ah kita. Dan hasilnya, telah lama Allah tuliskan dalam Al-Qur’an dan sejarah awal pertumbuhan ekonomi ummat islam ketika baru saja hijrah ke madinah al munawaroh, yaitu sebagai kalangan “minoritas yang menentukan”.

Begitu besar potensi yang dimiliki oleh para pengusaha dalam memperkuat ekonomi ummat. Gerakan “Satu Keluarga Satu Pengusaha” yang digagas DPP Partai Keadilan Sejahtera, merupakan langkah awal dari kebangkitan ekonomi berjama’ah ummat dalam mengimbangi pertarungan ekonomi yang tidak berimbang ini.

Selain itu, sebagai muslim yang shodiq (benar), kita sangat menyakini posisi tawar bisnis syariah sebagai perniagaan yang tidak pernah merugi dengan konsep industri halal yang memberikan keunggulan dibanding industri konvensional.

Bagaiman Anda melihat peran muslim di Indonesia terhadap dunia?

Sebagai negara muslim terbesar didunia dengan dua ratusan juta ummat islam didalamnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berperan dalam perkembangan dunia islam seluruhnya.

Maka untuk membingkai gerakan ini kedepan, DPD PKS Pekanbaru merencanakan peluncuran Program bernama GERAI RAKYAT. Dimana secara bertahap gerai-gerai ini nantinya akan dikelola secara ter-integrasi dengan struktur DPC dan DPRa PKS ditingkat kecamatan maupun ranting. Dengan harapan gerai-gerai ini nantinya akan menjadi backbone (tulang punggung) dari pengembangan industri retail syariah yang berkonsep Mitralaba denga seluruh elemen ummat islam.

Terakhir, langkah dalam waktu dekat yang akan DPD PKS Pekanbaru lakukan dalam menggerak ekonomi rakyat?

Seperti sebelumnya saya sampaikan. Kita akan gagas kebangkitan ekonomi berjama’ah. Kita dorong setiap rumah tangga memiliki usaha, mampu mandiri dengan usaha yang dijalankannya, dan ini akan menjadi penopang negara. Karena seperti kita ketahui, usaha mikro kecil dan menengah manjadi usaha yang paling kokoh, paling tangguh dalam menghadapi badai krisis. Satu lagi, kita akan menjalin, merangkul semua pihak, baik stakholder maupun shareholder dalam mewujudkan hal ini. InsyaAllah (mj/BPC)

Copyright © Sofyan Siroj